Bencana banjir bandang menerjang enam desa di Kecamatan Cilawu dan Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada pukul 14.00 WIB. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut mencatat 340 kepala keluarga (KK) terdampak, dengan 210 jiwa mengungsi ke tiga posko darurat.
Enam desa yang berada di dua kecamatan tersebut tersebar di wilayah administratif Kabupaten Garut. Berdasarkan data BPBD, desa-desa terdampak meliputi:
- Desa Sukamukti, Kecamatan Cilawu;
- Desa Mekarsari, Kecamatan Cilawu;
- Desa Pasirjaya, Kecamatan Cilawu;
- Desa Cisarua, Kecamatan Cilawu;
- Desa Karangmulya, Kecamatan Cisewu;
- Desa Tanjungjaya, Kecamatan Cisewu.
Keempat desa pertama berada di Kecamatan Cilawu, sementara dua desa terakhir berada di Kecamatan Cisewu. Total 340 KK terdampak tersebar di enam desa tersebut.
Dampak Bencana dan Kerugian Material
Curah hujan ekstrem yang mengguyur kawasan Garut selama empat jam menjadi pemicu utama meluapnya Sungai Cimanuk. Air sungai naik hingga ketinggian 1,5 meter dan merendam permukiman warga di enam desa. BPBD Garut mencatat kerugian material sementara mencapai Rp8,2 miliar, meliputi kerusakan 45 rumah, 12 hektare sawah, dan satu jembatan gantung.
Adapun rincian kerugian akibat bencana banjir di Kabupaten Garut adalah sebagai berikut:
- 45 unit rumah warga rusak;
- 12 hektare sawah tergenang air;
- 1 unit jembatan gantung putus.
Kerugian material tersebut diperkirakan masih dapat bertambah seiring berjalannya pendataan oleh tim lapangan.
Koordinasi Penanganan Darurat dan Rekomendasi
Dalam penanganan darurat, BPBD Kabupaten Garut berkoordinasi dengan TNI, Polri, dan relawan untuk melakukan evakuasi warga menggunakan perahu karet. Tim gabungan diterjunkan ke enam desa terdampak untuk memastikan seluruh warga yang berada di lokasi rawan dapat segera dipindahkan ke tempat aman. Sebanyak 210 jiwa dilaporkan mengungsi ke tiga posko darurat yang didirikan di lokasi aman. Sementara itu, akses Jalan Provinsi Garut-Tasikmalaya sempat terputus akibat longsor di titik KM 14-15, sehingga petugas dikerahkan untuk membuka jalur darurat.
Pemerintah Kabupaten Garut menetapkan status tanggap darurat bencana selama tujuh hari. Penetapan ini menjadi dasar percepatan penanganan, termasuk pendistribusian bantuan logistik dan perbaikan infrastruktur vital. BPBD juga melakukan asesmen lanjutan untuk memetakan kebutuhan mendesak warga terdampak.
Sebagai catatan strategis, Pemerintah Kabupaten Garut perlu memperkuat sistem peringatan dini hidrometeorologi serta meningkatkan kapasitas pemetaan kerawanan wilayah, khususnya di kawasan lereng dan bantaran Sungai Cimanuk. Langkah ini penting untuk mengurangi risiko bencana banjir dan longsor di masa mendatang. Swara Teritori merekomendasikan agar pemerintah daerah terus mengintegrasikan data kebencanaan dalam perencanaan tata ruang dan prosedur tetap tanggap darurat.