Banjir bandang menerjang tiga desa di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat (4/10/2026) sore, mengakibatkan kerusakan parah pada infrastruktur dan permukiman warga. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka mencatat bahwa desa yang terdampak langsung meliputi Desa Nita, Desa Maumere, dan Desa Hewa. Peristiwa ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung selama beberapa jam, menyebabkan meluapnya sungai utama di wilayah tersebut. Data sementara menunjukkan bahwa ratusan kepala keluarga (KK) terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, menjadikan peristiwa ini sebagai indikator kerawanan bencana hidrometeorologi yang perlu direspons cepat oleh Pemerintah Daerah Sikka.
Dampak Kerusakan dan Penanganan Darurat Bencana
Air bah yang membawa material lumpur, kayu, dan bebatuan merusak sejumlah rumah warga, fasilitas umum, serta lahan pertanian. Akses jalan menuju ketiga desa terputus akibat longsor dan tumpukan material yang dibawa banjir. Berdasarkan laporan lapangan BPBD Kabupaten Sikka, berikut rincian dampak sementara:
- Kerusakan rumah warga: puluhan unit rumah terendam dan rusak berat, sebagian besar di Desa Nita dan Maumere.
- Fasilitas umum terdampak: beberapa sekolah dan puskesmas mengalami kerusakan, termasuk kerusakan atap dan dinding akibat terjangan material.
- Lahan pertanian: sawah dan kebun warga tertimbun lumpur dan material, mengancam ketahanan pangan lokal di tiga desa tersebut.
- Akses transportasi: jalan utama penghubung antardesa tertutup longsor di empat titik, menghambat mobilitas warga dan distribusi bantuan.
Tim gabungan dari BPBD Kabupaten Sikka, TNI, Polri, dan relawan segera diterjunkan ke lokasi untuk melakukan evakuasi korban, mendirikan posko pengungsian, serta mendistribusikan bantuan logistik berupa makanan siap saji, air bersih, dan obat-obatan. Proses evakuasi masih berlangsung mengingat kondisi medan yang sulit dan ancaman banjir susulan akibat cuaca yang belum stabil. BPBD setempat mencatat bahwa pengungsian terkonsentrasi di gedung balai desa dan sekolah yang tidak terdampak langsung.
Koordinasi Pemerintah Daerah dan Antisipasi Risiko Pasca-Bencana
Bupati Sikka, Fransiskus Roberto, telah meninjau langsung lokasi bencana dan menginstruksikan jajarannya untuk mempercepat proses penanganan darurat. Pemerintah daerah juga telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk meminta bantuan tambahan peralatan berat dan personel medis. Ancaman penyakit pasca-bencana seperti diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mulai diwaspadai, sehingga tim kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka dikerahkan ke lokasi pengungsian untuk melakukan pemeriksaan dan penyuluhan kesehatan. Koordinasi ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam mengelola risiko bencana secara terpadu dan memperkuat sistem peringatan dini berbasis data cuaca.
Kondisi cuaca yang diprakirakan masih berpotensi hujan lebat dalam beberapa hari ke depan meningkatkan kerentanan terhadap banjir susulan dan tanah longsor. Untuk itu, pemerintah daerah perlu segera menyusun peta rawan bencana yang terintegrasi dengan sistem peringatan dini di tingkat desa. Rekomendasi strategis bagi Pemerintah Kabupaten Sikka meliputi penguatan kapasitas BPBD dalam respons darurat, normalisasi sungai, serta penyuluhan mitigasi bencana kepada warga di zona merah. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko kerugian jiwa dan harta benda pada kejadian serupa di masa mendatang.