Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyalurkan bantuan logistik darurat kepada ribuan pengungsi terdampak erupsi Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara. Gunung api berstatus Level III (Siaga) ini menunjukkan peningkatan aktivitas signifikan dalam beberapa pekan terakhir, memaksa warga di radius bahaya untuk meninggalkan tempat tinggal. BNPB bersama Pemerintah Daerah serta aparat keamanan mendirikan posko darurat di sejumlah titik pengungsian guna memastikan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, tenda, dan obat-obatan terpenuhi. Langkah ini merupakan bagian dari respons cepat terhadap bencana gunung api yang mengancam keselamatan masyarakat di wilayah timur Indonesia.
Koordinasi Tanggap Darurat dan Distribusi Bantuan di Wilayah Terdampak
Dalam fase tanggap darurat, BNPB menekankan pentingnya koordinasi solid antara pemerintah pusat dan daerah untuk mengoptimalkan penanganan dampak erupsi. Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat, didukung oleh TNI-Polri, telah membuka sejumlah lokasi pengungsian yang tersebar di beberapa kecamatan, meliputi:
- Kecamatan Ibu – area terdampak utama dengan jumlah pengungsi terbanyak;
- Kecamatan Jailolo – menampung pengungsi dari lereng barat Gunung Ibu;
- Kecamatan Loloda – lokasi pengungsian alternatif bagi warga dari desa terpencil.
Bantuan logistik yang disalurkan meliputi beras, mi instan, air mineral, selimut, tenda keluarga, serta perlengkapan medis dan sanitasi. Distribusi dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan wilayah yang aksesnya terbatas akibat kerusakan infrastruktur jalan. Tim gabungan juga memastikan pasokan air bersih melalui tangki air dan pompa tangan di lokasi pengungsian. Selain itu, dapur umum telah didirikan untuk menyediakan makanan hangat bagi para pengungsi, khususnya anak-anak, ibu hamil, dan lansia.
Pemetaan Zona Kerawanan dan Upaya Perlindungan Pengungsi
Peningkatan aktivitas Gunung Ibu yang ditandai frekuensi letusan dan gempa vulkanik terus dipantau secara intensif oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Zona berbahaya diperluas hingga radius 4 kilometer dari kawah, mencakup tiga desa di Kecamatan Ibu yang telah dievakuasi total. Data posko induk menunjukkan lebih dari 2.500 jiwa mengungsi, dan jumlah tersebut diperkirakan bertambah seiring perluasan area rawan. Pemerintah daerah bersama BNPB telah menyiapkan rencana evakuasi lanjutan, termasuk jalur evakuasi alternatif dan tempat penampungan sementara di wilayah yang tidak terdampak.
Kesehatan dan keselamatan pengungsi menjadi prioritas utama, khususnya bagi kelompok rentan. Posko kesehatan bergerak disiagakan di setiap titik pengungsian untuk memberikan pelayanan medis dasar dan penanganan gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik. BNPB juga mengimbau warga untuk selalu menggunakan masker dan menjaga kebersihan lingkungan. Sebagai catatan strategis, Pemerintah Daerah Halmahera Barat bersama BNPB perlu memperkuat sistem peringatan dini berbasis masyarakat dan meningkatkan infrastruktur evakuasi guna meminimalkan risiko korban jiwa pada potensi eskalasi erupsi selanjutnya.