Dua kapal mengalami kebakaran hebat di perairan Selat Madura, utara Kabupaten Gresik, Jawa Timur, pada Senin (28/9/2026) dini hari. Insiden kebakaran kapal ini melibatkan MT Melati Selatan yang membawa bahan bakar pertalite dan KM Trans Nusa yang mengangkut 12 awak kapal. Peristiwa terjadi saat kedua kapal melakukan transit sekitar 2 mil dari Pelabuhan Gresik, memicu respons cepat dari tim SAR Basarnas Surabaya dan Pemadam Kebakaran Gresik yang mengerahkan tujuh unit kapal pemadam. Berdasarkan laporan awal, tidak terdapat korban jiwa, tetapi tiga awak kapal dilaporkan menderita luka bakar dan telah dievakuasi ke fasilitas kesehatan terdekat.
Kebakaran Kapal di Perairan Gresik: Kronologi dan Dampak Lingkungan
Kebakaran yang melanda dua kapal di perairan Gresik ini memicu kepanikan warga pesisir Kecamatan Manyar akibat asap tebal yang menutupi langit dan sempat menghambat visibilitas di kawasan tersebut. Proses pemadaman api berlangsung intensif selama beberapa jam, melibatkan koordinasi antara Basarnas, instansi pelabuhan, dan pihak kepolisian setempat. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik saat ini tengah melakukan pemantauan terhadap potensi pencemaran akibat tumpahan cairan kimia dari kapal yang terbakar. Indikator kerawanan wilayah ini menunjukkan bahwa perairan Gresik merupakan jalur laut padat industri yang rawan kecelakaan, terutama terkait keselamatan laut dan pengelolaan bahan berbahaya.
- Lokasi kejadian: Perairan Selat Madura, 2 mil dari Pelabuhan Gresik, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
- Kapal terdampak: MT Melati Selatan (pengangkut pertalite) dan KM Trans Nusa (12 awak kapal).
- Dampak: Tiga luka bakar, tidak ada korban jiwa, asap tebal menutupi langit Kecamatan Manyar.
- Respons: Pengerahan tujuh unit kapal pemadam oleh Basarnas Surabaya dan Pemadam Kebakaran Gresik.
- Pemantauan: Dinas Lingkungan Hidup Gresik memonitor pencemaran cairan kimia.
Evaluasi Kesiapsiagaan Kawasan Industri Gresik dalam Keselamatan Laut
Insiden ini menyoroti kerawanan wilayah pesisir Gresik sebagai kawasan industri yang padat aktivitas pelayaran. Kapolres Gresik, AKBP Rovan Richardo, telah memerintahkan jajarannya untuk menginventarisasi sarana keselamatan di setiap pelabuhan dan dermaga swasta di wilayah tersebut. Langkah ini merupakan bagian dari upaya mitigasi risiko di kawasan industri Gresik yang menjadi pusat distribusi bahan bakar dan logistik di Jawa Timur. Kementerian Perhubungan juga akan mengevaluasi pemenuhan persyaratan keselamatan kapal yang melintasi perairan Gresik, termasuk standar operasional transit dan penanganan muatan berbahaya. Data awal mengindikasikan bahwa faktor kelalaian dalam prosedur keselamatan laut dapat menjadi pemicu utama kebakaran, yang memerlukan perhatian serius dari Pemerintah Daerah Gresik.
Sebagai catatan strategis bagi Pemerintah Daerah Gresik, insiden kebakaran kapal ini menegaskan perlunya penguatan pengawasan dan penegakan regulasi keselamatan di kawasan industri pesisir. Rekomendasi utama meliputi peningkatan kapasitas pemadam kebakaran pelabuhan, audit menyeluruh terhadap dermaga swasta, dan program pelatihan bagi awak kapal terkait penanganan kebakaran dan tumpahan bahan kimia. Selain itu, koordinasi lintas sektor antara Dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup, dan pihak kepolisian harus diperkuat untuk menjamin respons cepat terhadap insiden serupa di masa mendatang. Keselamatan laut di perairan Gresik tidak hanya menjadi tanggung jawab operator kapal, tetapi juga memerlukan komitmen penuh dari pemerintah daerah dalam menciptakan sistem mitigasi risiko yang terintegrasi dan berkelanjutan.