Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 5,2 mengguncang Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Rabu, 30 September 2026, pukul 14.45 WITA. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa terletak pada koordinat 8,23 derajat Lintang Selatan dan 116,21 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer, sekitar 15 kilometer timur laut Kota Tanjung, ibu kota Kabupaten Lombok Utara. Guncangan dirasakan hingga Kota Mataram dan sebagian wilayah Pulau Sumbawa. Pemerintah Kabupaten Lombok Utara melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) langsung mengaktifkan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk melakukan asesmen cepat di lapangan.
Dampak Kerusakan dan Respons Penanganan Darurat di Tiga Kecamatan
Hasil asesmen sementara BPBD Lombok Utara mencatat bahwa peristiwa bencana gempa ini tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, dampak kerusakan material dan gangguan pelayanan publik tetap terjadi. Tim Reaksi Cepat yang diterjunkan berhasil menghimpun data awal dampak gempa di wilayah terdampak sebagai berikut:
- 230 unit rumah rusak ringan di Kecamatan Gangga, Kayangan, dan Tanjung;
- 50 kepala keluarga (KK) mengungsi ke tenda pengungsian sementara di titik aman;
- Retakan struktural ditemukan pada sejumlah bangunan sekolah dan puskesmas di Kecamatan Gangga;
- Guncangan dirasakan pada skala intensitas III–IV MMI di Lombok Utara, serta skala II–III MMI di Kota Mataram dan Sumbawa.
Berdasarkan laporan Pusdalops BNPB, guncangan terasa cukup kuat selama kurang lebih lima detik di wilayah pesisir utara Lombok. Warga yang panik langsung keluar rumah menuju tempat terbuka. Beruntung, mekanisme mitigasi yang telah dilatihkan melalui simulasi kebencanaan di daerah wisata dan permukiman padat penduduk berjalan efektif. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan masyarakat Kabupaten Lombok Utara terhadap potensi gempa telah mengalami peningkatan signifikan dibandingkan kejadian gempa besar tahun 2018.
Kesiapsiagaan dan Rekomendasi Strategis bagi Pemerintah Daerah
TRC BPBD Lombok Utara berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan untuk melakukan penilaian kerusakan pada bangunan sekolah dan puskesmas yang terdampak. Langkah ini diambil guna mencegah risiko kecelakaan kerja dan gangguan layanan publik. BPBD Lombok Utara bersama jajaran TNI-Polri, Dinas Sosial, dan relawan kebencanaan juga bergerak melakukan penanganan darurat. Dapur umum didirikan di Lapangan Beringin, Kecamatan Tanjung, untuk melayani kebutuhan logistik 50 kepala keluarga yang mengungsi. Camat Gangga bersama perangkat desa terus melakukan pendataan warga terdampak dan memastikan layanan dasar tetap berjalan.
Dari sisi kebijakan, kejadian ini menjadi pengingat penting bagi Pemerintah Kabupaten Lombok Utara untuk memperkuat sistem peringatan dini dan pengawasan bangunan pada zona rawan bencana. Pemerintah daerah perlu memprioritaskan uji kelayakan struktural terhadap fasilitas publik, terutama sekolah dan puskesmas, serta memastikan setiap bangunan baru memiliki izin yang memperhatikan aspek mitigasi gempa. Selain itu, penguatan kapasitas TRC dan alokasi logistik siaga bencana perlu dikonsolidasikan dalam APBD perubahan. Dengan demikian, dampak bencana gempa di Lombok Utara pada kejadian berikutnya dapat ditekan lebih rendah.