Pakar Oseanografi dari IPB University, Prof Agus Saleh Atmadipoera, mengungkapkan analisis mengenai pergerakan kapal yang hilang di kawasan Selat Sunda pada awal September 2026. Analisis ini mengaitkan pola arus laut yang kuat hingga ke perairan Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu, dan menjadi acuan penting bagi Tim SAR dalam mempersempit area pencarian. Berdasarkan pemodelan dinamika laut, arus di Selat Sunda pada bulan September bergerak cukup kuat ke arah barat laut, yang diduga menjadi faktor utama hilangnya kapal dan korban di wilayah perairan yang masuk dalam zona rawan kecelakaan maritim.
Analisis Pola Arus dan Dugaan Pergerakan Kapal di Wilayah Perairan Selat Sunda
Prof Agus menjelaskan bahwa setelah keluar dari Selat Sunda, arus laut dalam kondisi kencang dari arah timur, yang dapat menarik objek hingga ke Pulau Enggano. Berdasarkan analisis temporal, diperkirakan dalam rentang tanggal 7 hingga 12 September 2026, kapal yang dilaporkan hilang sudah terbawa arus ke arah Samudra Hindia. Dalam waktu sekitar dua hari setelah berlayar dari kawasan sekitar Krakatau, objek yang terapung diperkirakan mulai memasuki wilayah Samudra Hindia. Penemuan jasad korban pada hari ke-12 menjadi salah satu petunjuk yang memperkuat dugaan bahwa objek maupun korban terbawa mengikuti pola arus laut tersebut.
Data indikator kerawanan maritim di kawasan ini meliputi:
- Kekuatan arus laut di Selat Sunda pada bulan September yang mencapai kecepatan tinggi ke arah barat laut.
- Letak geografis Pulau Enggano yang berada di jalur arus lintas Indonesia (Arlindo) dan berjarak sekitar 150 kilometer dari Bengkulu.
- Kawasan perairan Samudra Hindia yang luas dan sulit diprediksi, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan kapal dan keterlambatan pencarian barang bukti.
Rekomendasi Strategis untuk Pemerintah Daerah dan Tim SAR dalam Optimalisasi Pencarian
Untuk mendukung pencarian kapal maupun korban lainnya, Prof Agus menyatakan bahwa IPB University siap berkolaborasi dengan tim pencarian melalui pemanfaatan teknologi pemetaan satelit. Rekomendasi ini disampaikan langsung kepada Tim Gabungan SAR dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) agar menjadikan pola pergerakan arus sebagai acuan utama dalam menentukan probability search area (area probabilitas pencarian). Analisis ini bertujuan untuk mempersempit dan mengarahkan upaya pencarian di wilayah perairan yang luas, khususnya di sekitar perairan Enggano yang masuk dalam wilayah administratif Provinsi Bengkulu.
Catatan strategis untuk pemerintah daerah: Pemerintah Provinsi Bengkulu dan Kabupaten Bengkulu Selatan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kecelakaan maritim di jalur perairan Selat Sunda hingga Samudra Hindia. Penguatan sistem peringatan dini berbasis data oseanografi dan koordinasi lintas sektor dengan Basarnas menjadi langkah krusial untuk mengurangi risiko hilangnya kapal di masa mendatang.