Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) bersama tim gabungan masih melakukan upaya intensif penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda kawasan konservasi di Bukit Setampol dan Puncak Sangkareang, yang secara administratif berada dalam wilayah Resort Torean dan Resort Senaru, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Hingga Senin, 28 September 2026, luas area terdampak Karhutla Gunung Rinjani tersebut diperkirakan mencapai 1.098,75 hektare. Angka ini merupakan data sementara dan masih dapat mengalami perubahan seiring proses verifikasi lapangan serta pemetaan lebih lanjut yang dilakukan oleh petugas terkait.
Koordinasi Lintas Instansi dan Data Terkini Penanganan Karhutla Gunung Rinjani
Penanganan Karhutla Gunung Rinjani melibatkan koordinasi lintas instansi dan elemen masyarakat sebagai bentuk respons cepat menghadapi situasi darurat di kawasan taman nasional. Sebanyak 103 personel diterjunkan ke lapangan dan tergabung dalam satuan tugas gabungan. Berikut adalah rincian unsur yang terlibat dalam operasi pemadaman dan pemantauan:
- Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang bertindak sebagai leading sector.
- Manggala Agni, satuan khusus pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
- Komunitas Masyarakat Pecinta Alam yang memiliki pemahaman medan secara mendalam.
- Kesatuan Pemangkuan Hutan Rinjani Barat yang bertugas mendukung aspek teknis kawasan.
- Personel Polri/Brimob dan TNI untuk pengamanan serta dukungan logistik.
- Porter masyarakat setempat yang membantu akses menuju titik-titik rawan dan sulit dijangkau.
Dalam operasi ini, pemadaman dan pemantauan dilakukan dengan memanfaatkan teknologi pemetaan udara menggunakan drone untuk mendeteksi titik api secara akurat. Meskipun hujan telah turun di sejumlah lokasi dan pemantauan melalui drone di Puncak Sangkareang tidak mendeteksi hotspot dalam pembaruan data SiPongi selama 12 jam terakhir, pihak berwenang belum menyatakan kebakaran sepenuhnya padam. Verifikasi langsung di lapangan tetap menjadi prioritas untuk memastikan tidak ada bara atau titik api aktif yang tersembunyi di bawah permukaan tanah.
Dampak Penutupan Jalur Pendakian dan Kebijakan Reschedule di TNGR
Dampak signifikan dari Karhutla Gunung Rinjani ini adalah ditutupnya sementara dua jalur pendakian utama, yaitu Jalur Senaru dan Jalur Torean, yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, NTB. Keputusan penutupan jalur pendakian ini diambil oleh Balai TNGR demi aspek keamanan dan kenyamanan para pendaki, mengingat kondisi lapangan yang belum sepenuhnya aman dari potensi kebakaran. Penutupan bersifat sementara hingga dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi lapangan.
Bagi calon pendaki yang telah memiliki e-ticket untuk Jalur Senaru, diarahkan untuk melakukan reschedule jadwal pendakian atau dialihkan melalui Jalur Sembalun yang masih dibuka. Kebijakan ini diambil untuk meminimalisir risiko dan memastikan keselamatan pengunjung, sekaligus menjaga keberlangsungan ekosistem kawasan yang sedang dalam masa pemulihan. Pemerintah daerah setempat diharapkan terus berkoordinasi dengan Balai TNGR dalam memantau perkembangan karhutla dan memastikan langkah restorasi kawasan berjalan optimal, termasuk menyiapkan strategi pencegahan jangka panjang guna mengurangi risiko kebakaran hutan di wilayah NTB pada masa mendatang.