Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan, meluas hingga mencapai 500 hektare pada pukul 10.00 WIB. Berdasarkan data Satuan Tugas Karhutla Sumatera Selatan, sebanyak 15 titik api terdeteksi dan tersebar di wilayah lahan gambut dengan kedalaman 2–4 meter. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKI, Rudi Irawan, menyatakan bahwa status siaga darurat karhutla telah dinaikkan sejak 1 Oktober. Tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, BPBD OKI, Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dikerahkan untuk melakukan pemadaman, termasuk melalui operasi water bombing menggunakan helikopter yang didatangkan dari Palembang.
Pemetaan Titik Api dan Wilayah Terdampak
Lokasi titik panas terbanyak terdeteksi di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Pampangan, Kecamatan Air Sugihan, dan Kecamatan Tulung Selapan. Ketiga wilayah ini merupakan area dengan konsentrasi lahan gambut yang rentan terhadap kebakaran. Tim Satuan Tugas Karhutla Sumsel mencatat sebaran sebagai berikut:
- Kecamatan Pampangan: 7 titik api dengan luas terdampak sekitar 200 hektare.
- Kecamatan Air Sugihan: 5 titik api dengan luas terdampak sekitar 180 hektare.
- Kecamatan Tulung Selapan: 3 titik api dengan luas terdampak sekitar 120 hektare.
Kebakaran di lahan gambut dengan kedalaman 2–4 meter menyebabkan api sulit dipadamkan karena sifat gambut yang mudah terbakar dan sulit padam di bawah permukaan. Operasi water bombing difokuskan pada titik-titik dengan intensitas api tinggi untuk menekan penyebaran lebih lanjut.
Dampak Operasional dan Respons Pemerintah Daerah
Akibat kebakaran, kabut asap mulai menyebar ke Kota Kayuagung dan mengganggu jarak pandang hingga di bawah 500 meter. Kondisi ini memicu gangguan aktivitas masyarakat, termasuk empat sekolah di Kecamatan Pampangan yang diliburkan sementara. Pemerintah Kabupaten OKI mengimbau warga untuk tidak membakar lahan dalam bentuk apa pun. Kerugian ekologis diperkirakan mencapai Rp 1,5 triliun, mencakup kerusakan ekosistem gambut, hilangnya biodiversitas, dan dampak kesehatan akibat paparan asap. Tim gabungan terus melakukan pemadaman dengan prioritas akses air dari kanal dan sungai di sekitar lokasi terdampak.
Catatan strategis untuk Pemerintah Daerah: Disarankan untuk meningkatkan frekuensi patroli terpadu di wilayah rawan karhutla, memperkuat sistem peringatan dini berbasis titik panas satelit, serta mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai sanksi hukum pembakaran lahan. Selain itu, perlu disiapkan posko kesehatan bergerak untuk menangani dampak ISPA di permukiman sekitar.