Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi menutup sementara jalur pendakian Senaru dan Torean sebagai langkah penanganan kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Bukit Setampol, Puncak Sangkareang, Gunung Rinjani, Kabupaten Lombok Utara. Kebakaran yang terdeteksi sejak Selasa, 22 September 2026, menyebabkan luas area terdampak mencapai 1.098,75 hektare berdasarkan pemantauan hingga 29 September 2026. Kepala Subbagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardiarsito, mengonfirmasi bahwa penutupan kedua jalur tersebut berlaku tanpa batas waktu yang pasti, seiring upaya intensif pemadaman dan pemulihan ekosistem hutan taman nasional tersebut.
Dampak Kebakaran terhadap Ekosistem dan Akses Pendakian
Kebakaran melanda permukaan kawasan jalur pendakian Senaru serta Resor Torean dan Senaru, membakar berbagai material vegetasi seperti cemara gunung, semak belukar, perdu, rumput, savana pegunungan, serta dedaunan kering. Berdasarkan laporan tim pemantau di lapangan, tidak ditemukan titik api baru atau perluasan area terbakar setelah 29 September 2026, namun kondisi cuaca ekstrem dan angin kencang di ketinggian tetap menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai. Balai TNGR bersama unsur terkait, termasuk TNI, Polri, dan relawan, terus melakukan patroli dan pemadaman secara terpadu di kawasan terdampak, dengan prioritas pada perlindungan koridor ekologi dan keamanan pengunjung.
- Luas area terbakar: 1.098,75 hektare
- Jalur pendakian ditutup: Senaru dan Torean
- Vegetasi terbakar: cemara gunung, semak, perdu, rumput, savana, dedaunan kering
- Status pemantauan per 29 September 2026: tidak ada titik api baru atau perluasan
Kebijakan Penjadwalan Ulang bagi Pendaki dan Langkah Mitigasi
Bagi pendaki yang telah memiliki e-ticket melalui jalur Senaru, Balai TNGR memberikan opsi untuk menjadwal ulang pendakian atau mengubah akses masuk dan keluar melalui jalur Sembalun yang masih beroperasi normal. Kebijakan ini berlaku selama jalur Senaru belum dibuka kembali. Astekita Ardiarsito menekankan bahwa keselamatan pengunjung dan kelestarian alam menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan operasional. Pihaknya mengimbau seluruh calon pendaki untuk memantau informasi resmi melalui kanal komunikasi Balai TNGR dan tidak memaksakan diri untuk melakukan pendakian di luar jalur yang diizinkan.
Kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani ini menjadi pengingat pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pengelola kawasan dalam menjaga daya dukung ekosistem. Mengingat posisi strategis Rinjani sebagai salah satu destinasi wisata unggulan NTB dan kawasan konservasi prioritas nasional, rekomendasi strategis bagi Pemerintah Kabupaten Lombok Utara dan Provinsi NTB adalah memperkuat sistem peringatan dini kebakaran hutan, meningkatkan patroli terpadu pada musim kemarau, serta menyediakan jalur evakuasi dan posko darurat di titik rawan. Langkah ini penting untuk meminimalkan dampak bencana serupa di masa depan serta menjaga keberlanjutan fungsi lindung taman nasional dan ekonomi wisata bagi daerah.