Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan (Polda Kalsel) melaksanakan pemetaan titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan lahan kosong sekitar Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan langsung meninjau lokasi pada Kamis malam (1 Oktober 2026) dan mengoptimalkan teknologi drone thermal untuk mendeteksi titik panas di permukaan maupun bawah tanah. Langkah ini merupakan respons cepat terhadap bencana ekologis yang berdekatan dengan fasilitas kesehatan vital.
Pemetaan Titik Api dan Indikator Kerawanan Lahan
Operasi pemetaan difokuskan pada lahan kosong yang menjadi lokasi munculnya hotspot. Penggunaan drone thermal memungkinkan deteksi akurat terhadap titik api yang tidak tampak secara kasat mata, termasuk api bawah tanah pada lahan gambut. Data pemetaan yang dihasilkan mencakup indikator kerawanan lahan seperti suhu permukaan, sebaran hotspot, dan kedalaman api. Informasi ini digunakan untuk menentukan prioritas area pemadaman serta mengoptimalkan alokasi sumber daya tim gabungan.
- Lokasi pemetaan: lahan kosong di sekitar RSJ Sambang Lihum, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan.
- Teknologi: drone thermal untuk deteksi titik api permukaan dan bawah tanah.
- Data yang dihasilkan: data spasial suhu dan pemetaan titik panas.
- Tujuan: menyusun strategi pemadaman terarah dan efektif.
Dengan data spasial dan pemetaan suhu yang akurat, tim gabungan dapat merespons lebih cepat serta mencegah perluasan kebakaran yang berpotensi mengancam lingkungan dan masyarakat sekitar.
Dampak Kesehatan dan Koordinasi Penanganan Lintas Instansi
Kapolda Kalsel menyoroti potensi ancaman serius dari kepulan asap pekat terhadap kesehatan dan kenyamanan para pasien RSJ Sambang Lihum, khususnya risiko timbulnya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dampak kesehatan ini menjadi perhatian utama mengingat lokasi kebakaran yang berdekatan dengan fasilitas pelayanan kesehatan. Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, dilakukan koordinasi cepat dengan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan guna menerjunkan bantuan personel dan armada pemadaman ke area tersebut.
Proses pemadaman difokuskan pada lahan gambut menggunakan cairan surfaktan yang mampu menembus tanah hingga kedalaman dua meter. Teknik ini diharapkan dapat memadamkan api bawah tanah secara menyeluruh sekaligus menghentikan sumbatan asap pekat yang mengancam fasilitas kesehatan vital dan pemukiman penduduk di sekitarnya. Operasi ini menunjukkan sinergi antara Polda Kalsel, Dinas Kehutanan, dan pemerintah daerah dalam mengatasi kerawanan wilayah akibat bencana ekologis.
Kejadian ini menegaskan urgensi pemetaan kerawanan lahan berbasis teknologi dalam upaya mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah daerah disarankan untuk mengintegrasikan data pemetaan titik api dengan sistem peringatan dini serta memperkuat koordinasi lintas sektor, khususnya di wilayah yang berdekatan dengan fasilitas publik seperti rumah sakit. Langkah preventif berbasis data spasial perlu menjadi prioritas dalam perencanaan tata ruang dan pengendalian karhutla di Kalimantan Selatan.