Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah telah mengeluarkan laporan resmi mengenai peningkatan aktivitas seismik di sekitar Sesar Palu Koro, berdasarkan monitoring intensif Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Palu selama periode satu pekan. Data hingga 17 Mei 2026 mencatat 12 kejadian gempa tektonik dangkal dengan magnitudo di bawah 4.0, yang berpusat di wilayah Kabupaten Sigi dan Kota Palu. Peningkatan aktivitas ini telah dilaporkan secara langsung oleh Kepala BPBD Sulawesi Tengah kepada Gubernur serta seluruh bupati dan wali kota yang berada dalam zona sesar, sebagai bagian dari protokol kewaspadaan bencana.
Data Monitoring dan Analisis Deformasi Wilayah
Peningkatan frekuensi gempa tektonik dangkal di wilayah Sulawesi Tengah ini tidak hanya berdasarkan data seismik BMKG, tetapi juga didukung oleh pengamatan deformasi minor yang terekam melalui peralatan Global Positioning System (GPS) milik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Data deformasi ini memberikan indikasi tambahan mengenai aktivitas tektonik di Sesar Palu Koro, yang merupakan salah satu struktur geologi aktif paling signifikan di region ini. Analisis terkini mengidentifikasi wilayah dengan potensi dampak tinggi akibat aktivitas sesar tersebut, mencakup beberapa kecamatan yang perlu mendapat prioritas dalam kesiapsiagaan.
- Kabupaten Sigi: Kecamatan Dolo, Dolo Barat, dan Biromaru.
- Kota Palu: Kecamatan Ulujadi.
Identifikasi wilayah-wilayah ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun strategi mitigasi dan respons yang lebih terarah.
Langkah Operasional dan Koordinasi Pemerintah Daerah
Sebagai respons terhadap peningkatan indikator kerawanan, BPBD Provinsi Sulawesi Tengah telah mengambil langkah-langkah operasional konkret. Posko siaga bencana telah diaktifkan untuk memperkuat sistem monitoring dan respons cepat. Koordinasi intensif telah dilakukan dengan unsur TNI dan Polri di wilayah Sulawesi Tengah untuk memastikan kesiapan logistik, sarana evakuasi, dan penanganan darurat jika diperlukan. Selain itu, sosialisasi dan edukasi masyarakat menjadi fokus utama, dengan program yang telah menjangkau 25 desa yang dikategorikan sebagai daerah rawan di sekitar Sesar Palu Koro. Upaya ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi gempa.
Pemerintah daerah juga mengeluarkan imbauan resmi terkait pembangunan infrastruktur baru di zona merah sesar. Imbauan tersebut menekankan kepatuhan terhadap standar bangunan tahan gempa yang ketat, sesuai dengan peraturan konstruksi yang berlaku untuk wilayah rawan seismik. Hal ini merupakan langkah preventif struktural untuk mengurangi risiko kerusakan dan korban jiwa apabila terjadi gempa dengan magnitudo lebih besar di masa mendatang.
Secara strategis, peningkatan aktivitas seismik di Sesar Palu Koro ini mengharuskan pemerintah daerah di Provinsi Sulawesi Tengah, khususnya Kabupaten Sigi dan Kota Palu, untuk terus mengintegrasikan data monitoring real-time dari BMKG dan LIPI ke dalam proses perencanaan tata ruang dan pembangunan. Rekomendasi operasional mencakup penguatan kapasitas posko siaga di tingkat kecamatan, audit rutin terhadap kesiapan fasilitas kesehatan dan pendidikan di zona rawan, serta pengembangan skenario evakuasi yang lebih detail berbasis pemetaan mikrozonasi. Kolaborasi antar-lembaga pemerintah, penelitian, dan masyarakat harus diperkuat untuk membangun sistem kesiapsiagaan yang holistik dan responsif terhadap dinamika geologi wilayah.