Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kupang mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi peningkatan gelombang pasang dan ancaman banjir rob di wilayah pesisir Nusa Tenggara Timur (NTT). Fenomena astronomis Super New Moon pada pertengahan Mei 2026, dengan posisi bulan pada jarak terdekat (perigee), memperkuat gaya gravitasi yang memicu pasang air laut. Wilayah yang berpotensi terdampak secara spesifik meliputi pesisir Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, serta Sumba, dengan kenaikan muka air laut diprediksi mencapai 20-50 cm di atas rata-rata.
Analisis Kerawanan Wilayah dan Potensi Dampak
BMKG memproyeksikan puncak gelombang pasang terjadi pada periode 15–17 Mei 2026. Kondisi ini dapat diperparah oleh faktor meteorologis lokal seperti hujan lebat dan angin kencang di kawasan pesisir, meningkatkan risiko banjir rob terutama di daerah dataran rendah dan sekitar muara sungai. Peningkatan muka air laut tersebut secara langsung mengancam aktivitas masyarakat, infrastruktur pesisir, serta keselamatan pelayaran. Nelayan dan operator pelabuhan diimbau untuk memperhatikan kondisi laut dan keselamatan operasional.
- Wilayah berpotensi tinggi: Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba
- Periode puncak: 15–17 Mei 2026
- Estimasi kenaikan air laut: 20–50 cm di atas permukaan rata-rata
- Faktor exacerbating: hujan lebat dan angin kencang
Respons Pemerintah Daerah dan Kesiapsiagaan
Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah mengaktifkan posko siaga bencana untuk memantau perkembangan dan berkoordinasi dengan dinas terkait. Sosialisasi dan peringatan telah disampaikan kepada masyarakat, khususnya yang bermukim di zona rawan, untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengamankan barang berharga serta dokumen penting. Langkah-langkah ini merupakan bagian dari upaya mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim yang semakin memperkuat kerentanan kawasan pesisir NTT terhadap fenomena alam periodik seperti Super New Moon.
Fenomena ini menegaskan kebutuhan kesiapsiagaan berkelanjutan dan penguatan sistem peringatan dini di wilayah pesisir. Pemerintah daerah diimbau untuk memperkuat koordinasi antarinstansi, memetakan secara rinci titik-titik kerawanan banjir rob, serta mengintegrasikan data klimatologi dan astronomis dalam perencanaan tata ruang dan program pembangunan pesisir. Pembelajaran dari peristiwa ini dapat digunakan untuk menyusun kebijakan dan regulasi daerah yang lebih responsif terhadap ancaman kombinasi antara fenomena alam dan dinamika perubahan iklim.