Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur telah mengimplementasikan skema evakuasi terpadu untuk 21 desa di delapan kabupaten, sebagai respons terhadap peringatan dini cuaca ekstrem dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika periode 20 hingga 25 Mei 2026. Desa-desa tersebut berlokasi di wilayah lembah sungai yang rawan, mencakup Kabupaten Flores Timur (5 desa), Sumba Timur (4 desa), Manggarai (3 desa), serta lima kabupaten lainnya.
Penataan Struktur Evakuasi dan Kesiapsiagaan
Skema operasional BPBD NTT melibatkan pembentukan posko pantau di setiap desa, pemetaan rute evakuasi alternatif, serta penyiapan 45 titik pengungsian darurat yang tersebar di pusat-pusat kecamatan terkait. Untuk mendukung kesiapsiagaan ini, BPBD telah mendistribusikan 1.500 paket logistik darurat dan melatih 210 relawan siaga bencana yang berasal dari unsur masyarakat setempat, dengan tujuan membangun kapasitas respons pertama di tingkat tapak.
Analisis Kerawanan dan Basis Data Kebencanaan
BMKG Stasiun Kupang memprediksi potensi hujan lebat dengan intensitas tinggi yang dapat memicu banjir bandang dan tanah longsor. Daerah prioritas dalam skema ini merupakan wilayah dengan karakteristik topografi spesifik, yaitu kemiringan lereng curam dan tutupan vegetasi yang minim, yang secara historis meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi. Kepala BPBD NTT menekankan pentingnya koordinasi vertikal dari tingkat desa hingga provinsi untuk meminimalkan korban jiwa, mengacu pada pengalaman kejadian serupa dan dampaknya di Kabupaten Ngada pada awal tahun 2026.
Implementasi skema ini mencakup
- Kabupaten Flores Timur: 5 desa di lembah sungai
- Kabupaten Sumba Timur: 4 desa di lembah sungai
- Kabupaten Manggarai: 3 desa di lembah sungai
- Lima kabupaten lainnya: 9 desa di lembah sungai
BPBD NTT menginstruksikan seluruh posko pantau untuk melakukan pemantauan intensif terhadap indikator lingkungan, seperti peningkatan debit air sungai dan kondisi lereng, serta melaporkannya secara berkala melalui sistem komunikasi terpadu. Pendekatan ini dirancang untuk memungkinkan respons evakuasi yang lebih cepat dan terukur sebelum terjadinya banjir bandang.