|  Indonesia, WIB
Beranda Regional Laporan Pengamatan Gunung Merapi Minggu 21 Juni 2026: 31 Kali Gem...
Regional

Laporan Pengamatan Gunung Merapi Minggu 21 Juni 2026: 31 Kali Gempa Guguran, 20 Kali Gempa Hybrid

Laporan Pengamatan Gunung Merapi Minggu 21 Juni 2026: 31 Kali Gempa Guguran, 20 Kali Gempa Hybrid

PVMBG melaporkan aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang meningkat dengan 31 gempa Guguran dan 20 gempa Hybrid pada pengamatan tanggal 21 Juni 2026. Guguran lava tetap terjadi dengan jangkauan hingga 2000 meter, mengarah ke Kali Sat/Putih. Pemerintah daerah di DIY dan Jateng diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap zona bahaya yang telah ditetapkan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan peningkatan aktivitas vulkanik di Gunung Merapi berdasarkan pengamatan periode Minggu, 21 Juni 2026 pukul 00:00 hingga 06:00 WIB. Data teknis menunjukkan tren aktivitas yang signifikan dengan tercatatnya 31 kali gempa Guguran dan 20 kali gempa Hybrid/Fase Banyak. Fenomena guguran lava juga masih berlangsung, mengindikasikan bahwa energi magma di dalam tubuh gunung berapi yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini tetap tinggi.

Profil Aktivitas Seismik dan Visual Gunung Merapi

Catatan instrumental PVMBG selama periode pengamatan menunjukkan komposisi kegempaan yang didominasi oleh gempa berkaitan dengan runtuhan material. Gempa Guguran tercatat sebanyak 31 kali dengan amplitudo berkisar antara 2 hingga 25 mm dan durasi 38.42 hingga 189.8 detik. Sementara itu, gempa Hybrid/Fase Banyak, yang sering dikaitkan dengan pergerakan fluida magma atau gas, terjadi 20 kali dengan amplitudo 2-29 mm dan lama gempa 23.17-54.11 detik. Secara visual, kondisi kawah utama terpantau dengan asap berwarna putih berintensitas tipis mencapai ketinggian sekitar 50 meter. Yang perlu diperhatikan, tercatat 5 kali peristiwa guguran lava yang mengarah ke alur Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum mencapai 2000 meter dari puncak.

Kondisi Lingkungan dan Zona Potensi Bahaya Terkini

Pengamatan cuaca di sekitar Gunung Merapi pada periode tersebut mendukung akurasi pemantauan visual. Kondisi klimatologi dilaporkan cerah dengan angin tenang mengarah ke selatan. Parameter lingkungan menunjukkan suhu udara antara 16.2°C hingga 20°C, kelembaban 88% hingga 95.6%, dan tekanan udara 874.6 hingga 918 mmHg. Berdasarkan aktivitas terkini, otoritas menetapkan zona potensi bahaya yang wajib diwaspadai oleh pemerintah daerah di wilayah DIY dan Jateng. Bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas diperkirakan dapat melanda sektor-sektor berikut:

  • Sektor Selatan-Barat Daya: Mencakup Sungai Boyong (maksimal 5 km), serta Sungai Bedog, Krasak, Bebeng (maksimal 7 km).
  • Sektor Tenggara: Meliputi Sungai Woro (maksimal 3 km) dan Sungai Gendol (maksimal 5 km).
Selain itu, radius standar 3 km dari puncak dinyatakan sebagai zona berbahaya akibat potensi lontaran material vulkanik.

Peringatan resmi dari PVMBG secara eksplisit mengimbau masyarakat dan seluruh pelaku kegiatan, termasuk sektor wisata, untuk menghindari seluruh area dalam zona potensi bahaya dan radius 3 km dari puncak Gunung Merapi. Imbauan ini merupakan protokol standar untuk memitigasi risiko langsung dari aktivitas vulkanik yang tidak stabil dan dapat berubah sewaktu-waktu. Kepatuhan terhadap pembatasan zonasi ini sangat krusial mengingat karakter Gunung Merapi yang dinamis dan sejarah letusannya yang berdampak luas.

Bagi pemerintah daerah kabupaten/kota di zona terdampak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, laporan ini memberikan dasar data yang kuat untuk memperkuat kesiapsiagaan. Disarankan agar aparatur pemerintah daerah:

  • Mengaktifkan dan menguji komunikasi rutin dengan Pos Pengamatan Gunung Merapi serta pos-pos pengamatan darat lainnya.
  • Memastikan sosialisasi zonasi bahaya terkini telah menjangkau seluruh lapisan masyarakat, khususnya di daerah rawan di sepanjang alur-alur sungai yang disebutkan.
  • Menyelaraskan dan menguji rencana kontinjensi serta jalur evakuasi berdasarkan skenario bahaya terbaru, dengan memperhatikan parameter jarak luncur yang dilaporkan.
Koordinasi yang solid antara BPBD provinsi, BPBD kabupaten/kota, PVMBG, dan TNI/Polri menjadi kunci utama dalam menjaga ketertiban dan keamanan warga di kawasan rawan bencana ini.

Entitas dalam Berita
Organisasi: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)
Lokasi: Gunung Merapi, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Kali Sat/Putih, Sungai Boyong, Sungai Bedog, Sungai Krasak, Sungai Bebeng, Sungai Woro, Sungai Gendol
Berita Terkait