|  Indonesia, WIB
Beranda Regional Manggala Agni padamkan karhutla di Banyuasin dan OKU
Regional

Manggala Agni padamkan karhutla di Banyuasin dan OKU

Manggala Agni padamkan karhutla di Banyuasin dan OKU

Tim Manggala Agni KLHK melakukan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Banyuasin dan OKU Timur, Sumatera Selatan, sejak 14 Juli 2026. Operasi menghadapi tantangan medan berbeda, dengan fokus pada lahan mineral seluas 15 hektare di Kecamatan Sembawa (Banyuasin) dan lahan gambut seluas 2 hektare di Kecamatan Cempaka (OKU Timur) yang berisiko tinggi. Kejadian ini menjadi indikator kerawanan wilayah dan memerlukan penanganan strategis dari pemerintah daerah setempat.

Tim Manggala Agni dari Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), tengah melaksanakan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di dua kabupaten terpisah di Provinsi Sumatera Selatan, yakni Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur). Operasi yang telah berlangsung sejak Selasa, 14 Juli 2026 ini menandai ancaman bencana ekologis di awal periode musim kemarau dan memerlukan penanganan khusus mengingat karakteristik medan yang berbeda di setiap lokasi.

Operasi Pemadaman di Dua Titik Kerawanan Wilayah

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, melaporkan bahwa operasi telah memasuki hari kedua dengan tantangan medan yang kompleks. Upaya pemadaman dan pendinginan dilakukan secara sistematis untuk mencegah perluasan api. Berikut adalah analisis operasi pada dua titik fokus bencana:

  • Lokasi Pertama: Kecamatan Sembawa, Kabupaten Banyuasin – Luas lahan terdampak sekitar 15 hektare lahan mineral dengan vegetasi terbakar didominasi semak belukar, purun, gelam, dan tanaman sawit. Tantangan utama adalah luas bahan bakar yang banyak, memerlukan waktu pemadaman ekstra untuk mencegah re-ignition.
  • Lokasi Kedua: Kecamatan Cempaka, Kabupaten OKU Timur – Luas lahan terdampak sekitar dua hektare lahan gambut dengan vegetasi terbakar berupa semak belukar, gelam, dan akasia. Tantangan kritis adalah akses personel yang sulit akibat vegetasi tegakan kayu gelam yang sangat rapat, menjadikan lokasi tersebut sebagai bahan bakaran yang sangat potensial dan berisiko tinggi.

Analisis Kerawanan Lahan dan Strategi Penanganan

Ferdian Krisnanto menegaskan bahwa pihaknya belum dapat memastikan waktu penyelesaian pemadaman. Kondisi lahan gambut di OKU Timur menjadi perhatian utama, mengingat banyaknya material organik yang berpotensi tinggi memicu nyala api kembali. Medan di Kecamatan Cempaka yang dipenuhi tegakan gelam rapat tidak hanya menyulitkan akses, tetapi juga meningkatkan kerapatan bahan bakar, sehingga memerlukan strategi pemadaman yang sistematis dan berlapis. Sementara di Kecamatan Sembawa, meskipun luas lahan terbakar lebih besar, jenis lahan mineral relatif lebih mudah dikendalikan dibandingkan lahan gambut yang memiliki karakteristik menyimpan api di dalam lapisan tanah. Operasi lanjutan tidak hanya berfokus pada pemadaman titik api yang terlihat, tetapi juga pada proses pendinginan (cooling down) intensif untuk mencegah penyalaan ulang, terutama di area lahan gambut yang dapat membara dalam jangka waktu lama.

Kejadian karhutla di dua wilayah administratif ini mengindikasikan tingkat kerumitan penanganan bencana di Sumatera Selatan dan berpotensi sebagai peringatan dini bagi pemerintah daerah setempat. Pengawasan ketat dan patroli pasca-pemadaman menjadi langkah krusial dalam manajemen risiko kebakaran lahan, khususnya di kawasan dengan indeks kerawanan tinggi seperti lahan gambut dan area dengan vegetasi padat.

Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuasin dan OKU Timur perlu meningkatkan koordinasi dengan Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera untuk pemetaan zona rawan karhutla yang lebih detail, khususnya di Kecamatan Sembawa dan Cempaka. Rekomendasi strategis mencakup peningkatan kapasitas pemantauan titik panas (hotspot) secara real-time, penyiapan sistem peringatan dini berbasis karakteristik lahan (mineral vs. gambut), dan penguatan regulasi daerah terkait pengendalian pembukaan lahan pada masa transisi musim kemarau untuk memitigasi potensi bencana serupa di masa mendatang.

Entitas dalam Berita
Tokoh: Ferdian Krisnanto
Organisasi: Manggala Agni, Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Kementerian Kehutanan
Lokasi: Sembawa, Banyuasin, Sumatera Selatan, Cempaka, Ogan Komering Ulu Timur, OKU
Berita Terkait